ANALISA KELAYAKAN BISNIS
HALLO , KEMBALI LAGI DI BLOG SEPUTAR KEWIRAUSAHAAN
.
Pada hakikatnya, melalui penilain sebuah pembangunan/proyek bisnis dapat menarik dua jenis kesimpulan. Pertama, melalui evaluasi proyek kita dapat
mengetahui apakah benefitnetto lebih besar atau lebih kecil daripada
benefitnetto suatu peluang investasi marjinal. Jika suatu proyek menghasilkan
benefit netto yang lebih besar daripada benefit netto proyek marjinal,
pelaksanaanya dapat disetujui. Dan jika lebih kecil, pelaksanaannya seharusnya
ditolak. Jenis kesimpulan ini mendasari keputusan go/no-go (lanjut/tolak
proyek). Kedua, melalui proyek kita dapat menentuka urutan proyek dalam rangka
serangkaian peluang investasi yang lebih baik daripada proyek marjinal
sedemikian rupa sehingga proyek yang akan menghasilkan benefit yang lebih besar
terletak pada urutan yang paling atas.Dalam rangka mencari ukuran menyeluruh
sebagai dasar penerimaan/penolakan atau pengurutan suatu proyek, telah
dikembangkan berbagai cara yang dinamakan investment criteria atau kriteria
investasi.
Dalam hal menyusun berbagai peluang investasi yang semuanya
kelihatan lebih menguntungkan daripada proyek marjinal, maka seringkali
penggunaan dua atau lebih kriteria investasi meletakkan dua atau lebih
kemungkinan investasi di dalam urutan yang sama. Tetapi, ada kalanya urutan
berbagai kemungkinan itu berbeda menurut jenis kriteria yang dipakai. Tidak
satu pun kriteria yang diterima secara universal sebagai yang paling bermanfaat
dalam setiap keadaan.Ketiga kriteria pertama, yaitu NPV, IRR, dan Net B/C,
lebih umum dipakai dan dapat dipertanggungjawabka untuk penggunaan-penggunaan
tertentu. Masing-masing kriteria ini mempunyai kebaikan dan kelemahan. Oleh
karena itu, si penilai proyek harus memutuskan, kriteria mana yang paling tepat
dalam setiap keadaan. Sedangkan untuk Gross B/C didasarkan atas salah
pengertian tentang sifat dasar biaya, sehingga dapat menyebabkan kekeliruan
dalam penyusunan urutan peluang investasi.Berikut ini kelima investment
criteria yang digunakan oleh calon investor
:
1. Net present
value (NPV).
NPV adalah kriteria terpenting dalam evaluasi sebuah
investasi merupakan tujuan manajemen keuangan semua perusahaan untuk
meningkatkan atau menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham. NPV adalah
selisih jumlah kas yang dihasilkan sebuah proyek investasi dan nilai investasi
yang diperlukan atau selisih PV dari sebuah proyek dan investasi awal. Dalam
metode ini, pertama-tama yang dihitung adalah nilai sekarang (present value)
dari keseluruhan proses yang diharapkan atas discount rate tertentu. Kemudian
jumlah present value dari keseluruhan selama usianya dikurangi dengan present
value dari jumlah investasinya. Selisih antara present value dari keseluruhan
dengan present value dari pengeluaran modal (capital outlays) dinamakan nilai
neto sekarang (Net Present Value).
Kesulitan penggunan NPV adalah investor atau manajer
keuangan harus mendapat tingkat diskonto yang representatif untuk setiap proyek
investsi. Untuk investor perusahaan, tingkat diskonto ini adalah rata-rata
tertimbang dari biaya dana atau rata-rata tertimbang dari struktur modal
perusahaan itu. Untuk investor individu, tingkat diskonto yang relevan adalah
biaya bunga pinjaman atau biaya modal sendiri.
Adapun Kelebihan dari NPV, sebagai berikut:
* Memperhatikan
nilai waktu dari pada uang (time value of money).
* Mengutamakan
aliran kas yang lebih awal.
* Tidak
mengabaikan aliran kas selama periode proyek atau investasi.
Kelemahan dari NPV, sebagai berikut:
* Memerlukan
perhitungan Cost Of Capital sebagai Discount Rate.
* Lebih sulit
penerapannya dari pada Pay Back Period.
KLIK TAUTAN LINK BERIKUT UNTUK MELIHAT
2. Internal Rate
of Return (IRR).
Internal Rate Return adalah tingkat bunga yang menyamakan
present value kas keluar yang diharapkan dengan present value aliran kas masuk
yang diharapkan, atau didefinisikan juga sebagai tingkat bunga yang menyebabkan
Net Present Value (NPV) sama dengan nol (0). Gittinger (1986) menyebutkan bahwa
IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan internal tahunan bagi perusahaan yang
melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen.
Adapun Kelebihan dari IRR, sebagai berikut:
* Tidak
mengakibatkan aliran kas selama periode proyek
* Memperhitungkan
nilai waktu dari pada uang
* Mengutamakan
aliran kas awal dari pada aliran kas belakangan
Kelemahan dari PP adalah Memerlukan perhitungan (Cost Of
Capital) sebagai batas minimal dari nilai yang mungkin dicapai.
3. Payback Period
(PP).
Payback period adalah periode modal kembali atau lamanya
waktu yang diperlukan untuk mengembalikan investasi awal atau modal yang sudah
dikeluarkan. Metode ini juga sering disebut dengan metode pemulihan investasi
yang merupakan metode analisis kelayakan investasi untuk menilai jangka waktu
(tahun) pemulihan seluruh modal yang diinvestasikan dalam suatu perusahaan.
Adapun Kelebihan dari PP, sebagai berikut:
* Mudah dipahami
(metode yang paling sederhana)
* Selaras dengan
ketidakpastian arus kas di masa mendatang (makin kecil arus kas yang diperoleh
maka semakin lama kembali modalnya)
* Menggunakan
arus kas (bukan laba pembukuan).
Kelemahan dari PP, sebagai berikut:
* Mengabaikan
nilai waktu uang
* Mengabaikan
proses setelah PP dicapai
* Mengabaikan
nilai sisa
* Untuk mengatasi
metode PP beberapa perusahaan memodifikasi dengan pendekatan DPP (Discounted
Payback Periode) yaitu lamanya waktu yang diperlukan agar present value dari
arus kas bersih proyek dapat menegembalikan investasi awal.
4. Profitability Index (PI).
Metode ini menghitung perbandingan antara nilai arus kas
bersih yang akan datang dengan nilai investasi yang sekarang. Profitability
Index harus lebih besar dari 1 baru dikatakan layak. Semakin besar PI,
investasi semakin layak. Model ini adalah menghitung nilai tunai arus kas masuk
bersih dibagi nilai tunai investasi. Jika nilainya lebih besar dari 1, maka
proyek investasi tersebut dianggap layak, dan sebaliknya.
Adapun Kelebihan dari metode PI, sebagai berikut:
* Memperhitungkan
nilai waktu dari pada uang (time value of money).
* Menentukan
terlebih dahulu tingkat bunga yang akan digunakan.
* Konsisten
dengan tujuan perusahaan, yaitu memaksimalkan kekayaan pemegang saham.
Kelemahan dari metode PI yaitu dapat memberikan panduan dan
pilihan yang salah pada proyek- proyek yang mutually exsclusive yang memiliki
unsur ekonomis dan skala yang berbeda
.
5. Benefit/Cost
Ratio (B/C Ratio).
B/C ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang
dikeluarkan dibanding hasil (output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan
dinotasikan dengan C (cost). Output yang dihasilkan dinotasikan dengan B
(benefit). Keputusan menerima atau menolak proposal investasi dapat dilakukan
dengan melihat nilai B/C. Umumnya, proposal investasi baru diterima jika B/C
> 1, sebab berarti output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang
dikeluarkan.
Komentar
Posting Komentar